What It Means being a Mom : A Special One


Being a Mother is learning about strengths you didn't know you had
and dealing with fears you didn't know existed
~ Linda Wooten

***
20 Januari 2015, Anak lelakiku lahir ke dunia. Membuka Bab baru dalam hidupku, Saat itu aku tahu bahwa detik itu semua hal di duniaku akan berubah, aku akan manjadi manusia yang menomorduakan segalanya, menunda hal hal relatif yang tidak terkait anakku, bahkan sang suami terasa tidak penting, itu semua karena aku telah menjadi seorang ibu.

Menjadi ibu itu alamiah tapi secara mental tak semua wanita melahirkan bisa menjadi seorang ibu, Menjadi ibu bukanlah status melainkan lebih dari itu, Menjadi ibu adalah sebuah pekerjaan (baca : full time), sebuah profesi layaknya profesi lain yang memiliki sumpah jabatan. Ketika seorang wanita ingin memiliki seorang anak, dalam doanya dia sudah bersumpah pada Tuhan bahwa kelak dia akan merawat malaikat ini sepenuh hati tak terbatas waktu.

Lantas apa menjadi ibu sesulit yang diceritakan orang dan para tetua? tidak juga, menjadi ibu adalah belajar menjadi diri sendiri sekaligus belajar menjadi sosok yang altruis. Seorang ibu rela kehilangan jam tidur malamnya demi memastikan anak bayinya tidak kehausan dan menangis, ia senang tampil kucel asal anaknya bisa bersih dan keren walau hanya di rumah saja, ia ikhlas menghabiskan tabungannya untuk membeli hal hal geleng pernak pernik bayi (yang kata suami hanya mubazir), intinya wanita tangguh ini mampu melakukan apapun untuk anaknya, semua...tak pandang bulu tak tebang pilih.

Hal yang paling menyakiti hatinya adalah ketika melihat anaknya sakit, meski hanya sedikit pilek, batuk sesekali, dia sudah lebay menghubungi semua orang untuk mencari solusinya, tak jarang sambil menangis pilu seakan akan ini adalah akhir dunia...

Akupun begitu, meskipun di minggu pertama kelahiran Dario aku masih dilanda Baby Blues syndrome ataupun Postpartum depression, aku mulai gregetan ketika awalnya dia tersedak minum susu dari botol. Dia tak mampu menghisap putingku, berulang kali percobaan hanya berujung kegagalan disertai tangisannya. Sungguh tak tega, waktu itu sama sekali tak terpikir dia memiliki sakit jantung bawaan yang cukup parah(A Complex Congenital Heart Disease) ketika pada saatnya aku mengetahui kenyataan pahit ini, duniaku runtuh, semua gelap bagaikan ditutup kelambu hitam pekat. Tapi disinilah aku merasa aku mulai tumbuh, aku bertumbuh menjadi pribadi baru yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya..

***
Aku yakin semua kita pasti memiliki sebuah cap diri yang melekat, meski tak pernah kita ungkapkan kepada siapapun tapi kita sendiri tahu pasti jiwa macam apa yang kita miliki. Aku tak bisa berbohong bahwa aku adalah wanita manja yang boros lagi cengeng, menyukai hal hal yang menantang meskipun aslinya adalah penakut nomor satu. Aku adalah manusia yang sering berkonflik dengan diri sendiri, suka mengeluh dan merenung di akhir hari dan memikirkan hal hal buruk yang mungkin bisa aku cegah. I was. Itu aku, sebelum dia lahir, sebelum si buah hati nongol ke dunia.
Aku, lebih tepatnya merasakan urgensi berubah drastis ketika kami tak memiliki pilihan selain pindah ke negara suamiku dikarenakan sakitnya Dario. Kesadaran bahwa kami bukanlah orang kaya yang bisa 'afford' semua tindakan medis terbaik untuk Dario membuatku menyingkirkan egoku untuk tetap tinggal. iya itu semua demi dia..

***
Ego. Di sini, aku tahu banyak hal yang belum bisa kumiliki. Rumah, mobil, bahkan sekedar kamar saja harus struggling. Aku tak perlu berkeinginan memiliki hunian futuristik lagi keren karena aku masih menumpang.
Ternyata aku sudah belajar menjadi orang tanpa apa apa, tanpa embel embel perlahan tapi pasti aku yakin memang hidup adalah sebuah senda gurau.

Rasa Takut. Di negara lain ini, aku sadar bahwa menjadi ibu ga harus panik ga jelas juntrungan, ga perlu kepo tingkat dewa sampe semua staf rumah sakit ditanyain, ga perlu takut ada apa apa dengan dia sewaktu di ICU hingga melantai semalaman.
Ternyata aku sudah belajar memeluk rasa takutku. Ku ikhlaskan jika dia batuk sedikit, sesak sedikit dan lebih memilih untuk melakukan yang aku bisa untuk meringankan batuknya dan menelpon dokter dengan tenang.

Ambisi. Di sini, aku belajar bahwa hal yang pasti adalah ambisi hanya akan membuat jiwaku mati, kenapa tidak aku biarkan saja semua mengalir apa adanya dan sesuai jalan cerita yang Tuhan sediakan untukku? Tak perlu aku memikirkan akan memiliki profesi apa dia nanti karena setiap detik hidupnya kini adalah perjuangan, yang punya hak adalah dia, kelak dia akan menentukan ia akan jadi apa dan aku akan sangat bahagia untuk apapun itu. Aku takkan memaksa seperti dulu aku memaksa dia untuk kuat dan bertahan. Dia telah dan akan melakukannya untukku. Aku hanya perlu tenang.

Kesadaran memiliki anak luar biasa yang kapan saja bisa meninggalkanku telah menjadi cambuk untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Why sad? We've been through lots of painful and wonderful things...
Why worry? He made it this far already...
Why bother? Nothing is under control nor under your supervision...

Aku yakin aku akan terus bertumbuh sebagai seorang pribadi dan seorang ibu yang lebih baik terlepas dari kemungkinan baik buruknya akhir dari semua ini dan aku yakin kita semua para ibu akan begitu :)) having kids is probably the best thing ever happened, isn't it?



Happy Mother's day!!



9 comments

  1. Replies
    1. terimakasih mbak, sedang belajar mbak jadi wanita yg lebih kuat.. :)

      Delete
  2. Salam kenal mbak. Yes, having kids is the best thing that ever happen to a woman. D luar sana byk perempuan yg blm diberikan berkah ini. Semangat ya mbak, smg Allah mberikan yg tbaik u Dario dan mbak sekeluarga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak betul. Iya mbak.. jadi ibu itu privilege betul mbak..
      Terimakasih mbak yu, Aminn ya Rabb :)

      Delete
  3. Langsung jatuh cintrong pada Dario.
    Mbak. Aku jadi ingat waktu anak keduaku mendadak dinyatakan prematur, dan harus menunggu sore hari apakah dia hidup atau tidak.
    Tahu runtuhnya dunia.
    Tahu bagaimana memaksa diri makan pagi ditengah derai air mata
    Mendengar itu semua, 2 jam setelah melahirkan, bukan halmyang mudah.
    Sampai 2 tahun ke depan, jantungku terus berdebar. Meninggalkan dia tidur sendirian di kamar pun panik. Terus waspada mengamati gerak dadanya, masihkah bernafas?

    Menjadi ibu yg siap ditinggalkan anaknya, sungguh, aduh, hanya mudah menulisnya.
    Tapi kesimpulan memang menakjubkan.
    Disinilah terbuka hati, sekedar hidup saja itu penting. Ga mikir tuh anak bakal gede kek, rambut lebat kek, pinter matematika kek. Pokoknya hidup.

    Sekaligus pendidikan terbesar dari-Nya, bahwa Dia lah yang paling penting. Dan ada hidup abadi setelah ini semua berakhir.

    Tidak muda. Teruslah bersama teman ya mbak. Jangan simpan sendirian. Pasti melelahkan.
    Semoga kebaikan demi kebaikan yang datang.

    Salam peluk buat Dario.
    Malaikat kecil bermata bulat itu...��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak heni, betul mbak.. aduh tahun lalu pertama kali aku dengar diagnosis nya, runtuh duniaku mbak.. ini nulisnya pas pikiran udah agak santai.. dulu sama sekali tak terpikir apapun, berbulan bulan tercerabut dr duniaku mbak, ga usahkan menulis, bicara saja ga sanggup.. tp dr situ aku belajar makin tegar..

      Koreksi Dario masih panjang mbak, belum lagi resiko yg akan dia hadapi.. Doakan ya mbak..
      Salam hangat untuk keluarga mbak :)

      Delete
  4. Tetap semangat mba *ini klise banget
    kalo saya, sudah mau mati kayaknya. Tapi biasanya perempuan lebih kuat dari yang dia tau ^^

    aku selalu berdoa yaa mbaa *kiss kiss dario :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi mbak shinta, makasih sudah mampir.. iya bener mbak, perempuan itu kuat banget apalagi emak emak ya mbak..

      Terimakasih doanya mbak.. inshaAllah di ijabah.. amiin

      Delete
  5. Nangis baca posting ini. Sy masih di tahap melepaskan penyangkalan bahwa anak ketiga sy lahir dengan PJB.. Menunda tiga bulan untuk cek up ke harkit dengan tak putus berdoa memohon mujizat.. Terasa masih belum lolos fase denial..tersadar jagoan kecil perlu segera mendapat pertolongan ketika dia terbatuk dengan jidat berkeringat sambil terengah dan menggeleng-geleng kepalanya...terlihat sangat tidak nyaman.. Thanks for sharing and inspiring. Best wishes for Dario, Syafakallah

    ReplyDelete